Krisis ekologis global pada abad ke-21 menuntut respons teologis dari berbagai tradisi keagamaan, termasuk gerakan Kristen Injili. Artikel ini merefleksikan dinamika ekoteologi Injili dengan menganalisis literatur terkini yang membahas bagaimana Alkitab, doktrin, dan misi Kristen ditafsirkan ulang untuk merespons kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Artikel ini menunjukkan adanya kontradiksi dalam tubuh Injili, di satu sisi, muncul gerakan kepedulian lingkungan, inovasi hermeneutik, reinterpretasi konsep eskatologis, dan integrasi isu lingkungan dengan keadilan sosial, di sisi lain, masih kuat sikap skeptis, apatis, dan penolakan terhadap narasi krisis ekologis, terutama di kalangan Injili konservatif yang terkait dengan eskatologi dispensasional dan aliansi politik kanan. Dengan menggunakan metode kajian literatur dan analisis tematik, artikel ini memetakan faktor-faktor teologis, generasional, politik, dan geografis yang membentuk keragaman respons tersebut, sekaligus menilai sejauh mana perubahan teologis telah diterjemahkan dalam praksis konkret. Secara khusus, artikel ini menyoroti konteks Kekristenan Injili di Indonesia, yang sebagai minoritas religius cenderung mengembangkan politik defensif dan beroperasi dalam hegemoni ekonomi-politik kapitalistik. Sebagai kontribusi normatif, artikel ini mengusulkan kerangka ekoteologi Injili emansipatoris melalui tiga jalan: Metanoia (pertobatan ekologis atas dosa individual dan struktural), Marturia (kesaksian melalui keterlibatan praksis bersama komunitas terdampak), dan Dikaiosyne (komitmen pada keadilan ekologis-struktural). Dengan demikian, ekoteologi Injili diposisikan bukan sekadar sebagai koreksi moral internal gereja, tetapi sebagai praksis iman yang berpihak pada kelestarian bumi dan emansipatoris bagi mereka yang paling terdampak oleh kerusakan ekologis.
Copyrights © 2026