Penelitian ini mengkaji representasi visual budaya tekstil tradisional Palembang, songket dan kain jumputan sebagai media komunikasi antarbudaya dalam acara "High Tea Fashion Show & Bazaar" yang diselenggarakan di Manama, Bahrain, pada 7 Desember 2025. Penelitian ini merespons fenomena bagaimana artefak tradisional Sumatra Selatan berfungsi sebagai simbol komunikatif non-verbal ketika ditampilkan kepada audiens Timur Tengah dalam kerangka diplomatik. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan melalui observasi partisipatif terhadap acara fashion show di The Diplomat Radisson Blu Hotel, analisis semiotika visual terhadap desain tekstil yang ditampilkan, serta analisis dokumen dari KBRI Manama dan Bahrain–Indonesia Business and Friendship Society (BIBFS). Data dianalisis menggunakan kerangka semiotika dua tataran Roland Barthes. Temuan kunci menunjukkan bahwa adaptasi strategis Songket dan Jumputan ke dalam siluet modest fashion berfungsi sebagai "penerjemahan budaya" yang berhasil menjembatani nilai-nilai estetika dan sosio-religius antara Indonesia dan Bahrain. Penelitian ini terbatas pada satu peristiwa tunggal dan merekomendasikan kajian longitudinal yang lebih luas. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus spesifik pada tekstil Sumatra Selatan, topik yang kurang terwakili dalam literatur komunikasi antarbudaya, sebagai instrumen diplomasi budaya di kawasan Teluk.
Copyrights © 2026