Jakarta, as the center of industrial and consumer activities, produces a very high volume of household waste, including used cooking oil that is often improperly disposed of without adequate management. This habit causes soil and water pollution, degrades environmental quality, and worsens urban ecological conditions. Considering the potential of waste as a renewable energy source, the Used Cooking Oil Processing Facility in Duren Sawit aims to present an architectural solution that functions not only as a processing center but also as a space for education, social interaction, and community empowerment. The literature review emphasizes the application of regenerative architectural principles that focus on the reciprocal relationship between humans, buildings, and the environment, as well as the integration of circular economy concepts to transform waste into valuable resources. The design approach considers regenerative aspects through energy efficiency, optimization of natural ventilation and daylight, and the use of environmentally friendly local materials. The design results show that the implementation of a regenerative system can create a closed-loop cycle, in which biodiesel produced from used cooking oil is reused as an energy source for building operations. Beyond its energy system, the facility also functions as a public learning space that enhances ecological awareness and community participation in sustainable waste management within dense urban areas. Keywords: Biodiesel; Processing; Regenerative; Used cooking oil Abstrak Jakarta sebagai pusat aktivitas industri dan konsumsi menghasilkan volume limbah rumah tangga yang sangat tinggi, termasuk minyak jelantah yang sering dibuang sembarangan tanpa pengelolaan yang memadai. Kebiasaan ini menimbulkan pencemaran tanah dan air, menurunkan kualitas lingkungan, serta memperburuk kondisi ekologi perkotaan. Dengan mempertimbangkan potensi limbah sebagai sumber energi terbarukan, pengolahan minyak jelantah di Duren Sawit bertujuan menghadirkan solusi arsitektural yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan, tetapi juga sebagai ruang edukasi, interaksi sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Kajian literatur menekankan penerapan prinsip arsitektur regeneratif yang berfokus pada hubungan timbal balik antara manusia, bangunan, dan lingkungan, serta integrasi konsep ekonomi sirkular untuk mengubah limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna. Pendekatan desain memperhatikan aspek regeneratif melalui efisiensi energi, optimalisasi sirkulasi udara dan cahaya alami, serta pengaruh positif pada ekosistem setempat. Hasil perancangan menunjukkan bahwa penerapan sistem regeneratif mampu menciptakan siklus tertutup, di mana biodiesel hasil olahan minyak jelantah dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi bagi bangunan. Selain sistem energi bangunan, pengolahan ini juga dapat berperan sebagai ruang pembelajaran publik yang memperkuat kesadaran ekologis dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan limbah berkelanjutan di kawasan perkotaan padat.
Copyrights © 2026