Desa Sakay, Kecamatan Totikum, merupakan wilayah yang memiliki faktor risiko penularan malaria akibat kondisi lingkungan dan rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pencegahan penyakit tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit malaria melalui program penyuluhan kesehatan. Metode yang digunakan adalah penyuluhan edukatif dengan pendekatan partisipatif yang disertai evaluasi menggunakan pre-test dan post-test terhadap 62 responden. Materi yang diberikan meliputi pengertian malaria, penyebab dan cara penularan, gejala, serta upaya pencegahan seperti penggunaan kelambu berinsektisida, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari gigitan nyamuk. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif setelah dilakukan penyuluhan. Pada pre-test, responden dengan kategori pengetahuan baik sebesar 40,3%, cukup 53,2%, dan kurang 6,5%. Setelah penyuluhan (post-test), kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 98,4%, cukup menurun menjadi 1,6%, dan tidak terdapat lagi responden dengan kategori kurang (0%), dan sikap positif terhadap perilaku pencegahan mencapai 100%. Kegiatan Program penyuluhan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan malaria. Sakay Village, Totikum District, is an area with risk factors for malaria transmission due to environmental conditions and low public understanding of disease prevention. This community service activity aims to increase public knowledge about malaria through a health education program. The method used is educational education with a participatory approach accompanied by evaluation using pre-tests and post-tests for 62 respondents. The material provided includes the definition of malaria, causes and modes of transmission, symptoms, and prevention efforts such as the use of insecticide-treated bed nets, maintaining environmental cleanliness, and avoiding mosquito bites. The results of the activity showed an increase in descriptive knowledge after the education. In the pre-test, respondents with good knowledge were 40.3%, sufficient 53.2%, and poor 6.5%. After the education (post-test), the good knowledge category increased to 98.4%, sufficient decreased to 1.6%, and there were no more respondents with poor (0%) category, and positive attitudes towards preventive behavior reached 100%. This outreach program activity has proven effective in increasing public knowledge regarding malaria prevention.
Copyrights © 2026