Penentuan rute optimal sangat esensial untuk efisiensi pengiriman logistik, terutama di wilayah dengan struktur jaringan jalan yang kompleks dan tidak teratur seperti Kaliuntu, Bali. Secara teoretis, algoritma Breadth-First Search (BFS) dan Depth-First Search (DFS) memiliki kompleksitas waktu identik yakni Namun, kajian performa empiris beserta analisis pola penelusurannya pada graf jaringan nyata masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan membandingkan pola traversal spasial dan waktu eksekusi empiris kedua algoritma. Graf tak berarah dan tak berbobot (15 simpul, 20 sisi) hasil pemetaan lapangan diimplementasikan menggunakan Python 3.10 berbasis adjacency list (Intel Core i5-7200U, RAM 8GB). Eksperimen melalui 10 iterasi menunjukkan komputasi BFS lebih cepat dan stabil (rata-rata 0.082 ms, 6 rute unik) dibandingkan DFS (rata-rata 0.158 ms, 9 rute unik). Namun, analisis spasial mengungkap sebuah paradoks operasional yaitu pola radial BFS memaksa kurir melompat antar klaster secara tidak efisien, sedangkan strategi linier DFS jauh lebih rasional karena menuntaskan satu kawasan utuh sebelum berpindah. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan algoritma logistik wajib menyelaraskan logika algoritmik dengan intuisi spasial kurir manusia di lapangan.
Copyrights © 2026