Perbandingan biaya operasional antara bus diesel dan bus listrik dalam sistem transportasi umum perkotaan menjadi penting untuk evaluasi keberlanjutan ekonomi dan lingkungan. Koridor 5 BRT Medan, yang menghubungkan Lapangan Merdeka–Tembung, merupakan lokasi yang relevan untuk menilai biaya operasional kedua jenis bus ini. Dengan meningkatnya kesadaran terhadap pengurangan emisi karbon, bus listrik semakin dilirik sebagai alternatif ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan biaya operasional antara bus diesel dan bus listrik dalam sistem transportasi umum perkotaan, dengan fokus pada komponen biaya yang berbeda, serta menganalisis konsumsi baterai bus listrik menggunakan pemodelan regresi polinomial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi perhitungan biaya operasional bus diesel menggunakan pedoman Pd-T-15-2005-B dari Kementerian Pekerjaan Umum, sementara biaya operasional bus listrik dihitung melalui pendekatan yang lebih langsung. Data primer yang digunakan meliputi survei kecepatan kendaraan, penggunaan baterai, serta kondisi jalan yang diukur dengan aplikasi Roadroid untuk nilai International Roughness Index (IRI). Selain itu, data sekunder mencakup harga energi, suku cadang, dan spesifikasi teknis kendaraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya energi pada bus listrik lebih rendah dibandingkan dengan bus diesel pada kecepatan operasional rata-rata 15 km/jam. Biaya operasional bus listrik terdiri dari biaya konsumsi listrik, suku cadang, tenaga pemeliharaan, serta biaya penggantian baterai, sementara bus diesel didominasi oleh biaya bahan bakar. Bus listrik memiliki biaya operasional yang lebih efisien terkait konsumsi energi, meskipun biaya penggantian baterai menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. Pemodelan konsumsi baterai menunjukkan hubungan signifikan antara variabel operasional dengan tingkat penggunaan baterai.
Copyrights © 2026