Penelitian ini menganalisis wacana program "Makan Bergizi Gratis" (MBG) di TikTok, yang telah menjadi topik sentral diskusi publik , untuk memetakan persepsi masyarakat dan bagaimana diskursus digital ini membentuk realitas sosial. Dengan landasan teoritis Social Network Analysis (SNA) yang berfokus pada relasi dan struktur sosial , penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method yang mengintegrasikan analisis tematik kualitatif dan analisis frekuensi teks kuantitatif (n-gram) terhadap data tekstual yang diambil dari unggahan video selama September-Oktober. Hasil penelitian secara tegas mengungkapkan dominasi narasi krisis yang meluas , berpusat pada empat tema utama: krisis keamanan pangan seperti keracunan massal , kegagalan standar operasional , kontaminasi pangan (misalnya ulat dan serpihan kaca) , dan rendahnya kepercayaan publik. Temuan kuantitatif memvalidasi hal ini, di mana frasa negatif "keracunan makanan" menempati peringkat kedua (frekuensi 10) setelah nama resmi program , membuktikan bahwa fokus wacana adalah masalah, bukan keberhasilan. Pembahasan mengidentifikasi akar masalah pada tiga kegagalan fundamental: kesenjangan implementasi antara kebijakan dan eksekusi , pengawasan yang tidak memadai , dan kegagalan komunikasi krisis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa platform seperti TikTok kini berfungsi sebagai early warning system yang efektif untuk kegagalan kebijakan publik , yang menuntut pemerintah untuk mengembangkan kapasitas social listening secara real-time untuk intervensi proaktif
Copyrights © 2026