Dalam konteks globalisasi budaya, Korean Drama (K-Drama) telah menjadi salah satu bentuk tontonan yang populer dan banyak diadaptasi dalam industri hiburan Indonesia. Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah film A Business Proposal versi Indonesia, yang diangkat dari drama Korea berjudul sama yang sebelumnya telah sukses secara internasional. Sayangnya sejak sebelum film tersebut tayang di Indonesia, film ini mendapat reaksi negatif dari audiens yang menyebabkan film tersebut turun layar jauh lebih cepat di bioskop. Hal ini diakibatkan pemeran utama mengeluarkan pernyataan yang memicu kemarahan sebagian netizen di Indonesia, khususnya penggemar K-Drama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan paradigma respons positif penggemar K-Drama yang beralih menjadi fenomena backlash akibat pernyataan yang dikeluarkan oleh aktor utama film A Business Proposal. Fokus utama dari analisis ini adalah percakapan yang terjadi di kalangan netizen sebagai respons terhadap peristiwa tersebut, terutama yang tercermin dalam konten yang diproduksi oleh Falcon selaku Production House film tersebut. Konsep yang digunakan adalah analisis jaringan untuk menganalisa jaringan komentar yang terbentuk di konten tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif untuk memperdalam analisis yang dilakukan terkait munculnya Backlash. Teknik analisis menggunakan Social Network Analysis melalui aplikasi Communalytic. Hasl penelitian ini menunjukkan bahwa sentimen yang terbentuk dalam kontroversi yang terjadi tidak hanya bersentimen negatif. Melainkan terdapat sentimen netral dan positif sebagai penyeimbang wacana yang dibangun melalui interaksi antar pengguna. Namun dalam analisis toksisitas, jaringan interaksi yang terbentuk cenderung menunjukkan bahwa ruang tersebut dianggap “beracun”. Meski terdapat sentimen positif, namun rasa kekecewaan membuat wacana yang dibangun dapat mengancam keberlangsungan industri tersebut. Selain itu, analisis jaringan sosial menunjukkan bahwa backlash yang terbentuk bersifat terstruktur sebagai jaringan scale-free. Interaksi tidak tersebar merata, namun terkonsolidasi dalam hub yang dominan.
Copyrights © 2026