Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strategi Konten Instagram Dalam Meningkatkan Kesadaran Merek Museum Sonobudoyo Yogyakarta Annisa Bella Novita , Sari; Widhihatmini, Widhihatmini; Utomo, Ardian Setio; Utari, Tituk; Warhamni, Dewi
Jurnal Pekommas Vol 8 No 2 (2023): December 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56873/jpkm.v8i2.5141

Abstract

The role of museums in the digital era is no longer directed at collections but towards 'Edutainment' (Educational Entertainment) which keeps up with the times by providing information and communication in visual form via Instagram. There are various ways that can be done in preserving culture, but the most important thing is how to raise awareness and a sense of belonging to love the culture itself, so that people will continue to be motivated to learn about it. The existence of the Sonobudoyo Museum in Instagram is expected to provide positive attractive insight to the community. This research is conducted to find out the Instagram content strategy carried out by the Sonobudoyo Museum in increasing brand awareness for the community. The type of research used is qualitative research with a descriptive analysis approach, that interprets the data with words or descriptions. The data collection techniques use the method of observation, interviews and documentation. The results of the study show that the content strategy for the Instagram @sonobudoyo account is implemented consistently. The strategies undertaken include context, communication, collaboration and connection. Brand awareness analysis contained in the @sonobudoyo account involves several elements, namely being different, meaningful, transferability, adaptability, and publicity. The advantage of this journal is the idea and concept of the authors who examine museum attractions with relevant theoretical approaches, supporting references, systematic descriptions, and easy-to-understand explanations.
Discourse of the Symbols Meaning in Exo's 'Mama' Music Video Clips Utomo, Ardian; Widhihatmini; Warhamni, Dewi; Widianti, Ikke
CandraRupa : Journal of Art, Design, and Media Vol. 2 No. 1 (2023): Vol.2 No.1, March (2023)
Publisher : Universitas Dinamika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37802/candrarupa.v2i1.333

Abstract

Video klip kelompok musik Exo berjudul ‘Mama’ memberikan beragam persepsi di kalangan masyarakat terutama pecinta musik pop Korea mengenai simbol-simbol yang ada di dalamnya. Simbol adalah bagian dari komunikasi yang menuntut masyarakat menggunakan persepsi untuk dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan informan memberikan persepsi bahwa simbol yang ada dalam video musik Exo berjudul ‘Mama’ hanyalah sebuah seni dan sebagai pendukung sebuah cerita dalam video klip musik tersebut. Selain itu persepsi yang dimunculkan bahwa simbol yang ada dalam video klip musik Exo tersebut memiliki keterkaitan dengan suatu kepercayaan tertentu dalam hal ini menyerupai lambang dan simbol Illuminati. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan persepsi tidak terjadi begitu saja, tidak hanya karena reseptor indra terhadap suatu objek yang ada tetapi hal ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor internal dan eksternal. Penelitian ini mencoba mengungkapkan penggunaan simbol-simbol yang identik dengan Illuminati dimana tidak banyak penelitian sejenis yang mengkaji hal tersebut. Disarankan bagi penelitian selanjutnya bisa mencermati penggunaan simbol dalam tayangan video klip music dan berupaya mengungkapkan makna yang ada didalamnya sehingga dapat membantu masyarakat memberikan pemaknaan yang tepat.
Dari Promosi ke Backlash: Analisis Percakapan Netizen Indonesia pada Krisis di Film A Business Proposal Versi Indonesia Warhamni, Dewi; Putri, Vega Karina Andira; Syafuddin, Khairul
Jurnal Public Relations (J-PR) Vol. 7 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jpr.v7i1.11033

Abstract

Dalam konteks globalisasi budaya, Korean Drama (K-Drama) telah menjadi salah satu bentuk tontonan yang populer dan banyak diadaptasi dalam industri hiburan Indonesia. Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah film A Business Proposal versi Indonesia, yang diangkat dari drama Korea berjudul sama yang sebelumnya telah sukses secara internasional. Sayangnya sejak sebelum film tersebut tayang di Indonesia, film ini mendapat reaksi negatif dari audiens yang menyebabkan film tersebut turun layar jauh lebih cepat di bioskop. Hal ini diakibatkan pemeran utama mengeluarkan pernyataan yang memicu kemarahan sebagian netizen di Indonesia, khususnya penggemar K-Drama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan paradigma respons positif penggemar K-Drama yang beralih menjadi fenomena backlash akibat pernyataan yang dikeluarkan oleh aktor utama film A Business Proposal. Fokus utama dari analisis ini adalah percakapan yang terjadi di kalangan netizen sebagai respons terhadap peristiwa tersebut, terutama yang tercermin dalam konten yang diproduksi oleh Falcon selaku Production House film tersebut. Konsep yang digunakan adalah analisis jaringan untuk menganalisa jaringan komentar yang terbentuk di konten tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif untuk memperdalam analisis yang dilakukan terkait munculnya Backlash. Teknik analisis menggunakan Social Network Analysis melalui aplikasi Communalytic. Hasl penelitian ini menunjukkan bahwa sentimen yang terbentuk dalam kontroversi yang terjadi tidak hanya bersentimen negatif. Melainkan terdapat sentimen netral dan positif sebagai penyeimbang wacana yang dibangun melalui interaksi antar pengguna. Namun dalam analisis toksisitas, jaringan interaksi yang terbentuk cenderung menunjukkan bahwa ruang tersebut dianggap “beracun”. Meski terdapat sentimen positif, namun rasa kekecewaan membuat wacana yang dibangun dapat mengancam keberlangsungan industri tersebut. Selain itu, analisis jaringan sosial menunjukkan bahwa backlash yang terbentuk bersifat terstruktur sebagai jaringan scale-free. Interaksi tidak tersebar merata, namun terkonsolidasi dalam hub yang dominan.