Kepemimpinan dalam perspektif Islam tidak hanya dipandang sebagai fungsi sosial, melainkan juga sebagai amanah ilahiah yang memiliki dimensi moral dan spiritual. Artikel ini mengkaji konsep kepemimpinan Qur’ani dan relevansinya dalam komunikasi organisasi modern dengan merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an (QS. Al-Baqarah [2]:30; QS. Sad [38]:26; QS. Asy-Syura [42]:38; QS. Ali Imran [3]:159; QS. An-Nisa [4]:58) serta hadis Nabi SAW. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur tafsir klasik dan kontemporer, serta teori komunikasi organisasi modern, penelitian ini menemukan lima prinsip utama kepemimpinan Qur’ani yang berimplikasi langsung pada pola komunikasi organisasi. Pertama, kepemimpinan dipandang sebagai amanah ilahiah yang menuntut tanggung jawab dan pertanggungjawaban. Kedua, komunikasi organisasi harus ditegakkan di atas keadilan dan prinsip tabayyun. Ketiga, musyawarah menjadi mekanisme Qur’ani untuk mencegah tirani dan memperkuat partisipasi. Keempat, kepemimpinan Qur’ani menolak gaya otoriter dengan menekankan kelembutan dan empati dalam komunikasi. Kelima, trust atau kepercayaan menjadi fondasi relasi pemimpin dan bawahan yang dibangun melalui kejujuran, transparansi, dan konsistensi. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa prinsip-prinsip komunikasi Qur’ani sangat relevan untuk menjawab tantangan organisasi modern, khususnya dalam membangun iklim kerja yang sehat, partisipatif, dan berorientasi pada nilai-nilai spiritual. Rekomendasi praktis yang diajukan antara lain penguatan budaya musyawarah terbuka, penghindaran kepemimpinan otoriter, integrasi nilai Qur’ani dalam kurikulum manajemen dan komunikasi, penerapan prinsip transparansi dan akuntabilitas, serta pengembangan riset interdisipliner tentang komunikasi Qur’ani. Dengan demikian, kepemimpinan Qur’ani dapat menjadi paradigma alternatif dalam membangun komunikasi organisasi yang produktif sekaligus bernilai ilahiah.
Copyrights © 2025