Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat kecemasan pemuda usia 18–25 tahun di Gereja Tradisional di Kupang, di mana hasil survei awal menggunakan Beck Anxiety Inventory (BAI) menunjukkan 65% responden berada dalam kategori cemas dan 25% dalam kategori sangat cemas. Kondisi ini diperparah oleh tekanan ekonomi, krisis identitas, quarter-life crisis, serta ketiadaan ruang aman dalam komunitas gereja. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi psikologis pemuda, mengevaluasi keterbatasan pelayanan pastoral yang ada, dan merumuskan strategi Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang holistik-transformatif. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka pedagogi Shared Christian Praxis dari Thomas Groome, penelitian ini mengintegrasikan teori perkembangan psikososial Erik Erikson dan teori kesejahteraan psikologis Carol Ryff. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pelayanan PAK yang selama ini bersifat doktrinal-tradisional belum mampu menjawab kebutuhan kesehatan mental pemuda. Penelitian ini merumuskan model pelayanan holistik-transformatif yang mencakup pilar edukatif, preventif, kuratif, dan struktural, agar gereja dapat bertransformasi menjadi healing community yang mengintegrasikan spiritualitas dengan literasi kesehatan mental secara kontekstual dan profesional.
Copyrights © 2026