Persaingan industri kopi yang semakin ketat mendorong pelaku usaha untuk tidak hanya berfokus pada kualitas produk, tetapi juga pada kualitas lingkungan fisik layanan atau servicescape. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh servicescape terhadap kepuasan konsumen di Warkop Aa Kupi Tanjung Morawa, yang beroperasi 24 jam dengan rata-rata 2.500 pengunjung per bulan. Servicescape dalam penelitian ini dioperasionalkan berdasarkan model Bitner (1992) yang mencakup tiga dimensi utama, yaitu: kondisi lingkungan (ambient conditions/X1) yang meliputi suhu, pencahayaan, aroma, dan kebersihan; tata letak dan fungsionalitas (spatial layout and functionality/X2) yang mencakup tata ruang, kemudahan bergerak, dan aksesibilitas fasilitas; serta tanda dan simbol (signs and symbols/X3) yang meliputi kejelasan petunjuk, dekorasi interior, dan keserasian warna. Variabel dependen adalah kepuasan konsumen (Y) yang diukur berdasarkan indikator Kotler dan Keller (2016). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori. Sampel berjumlah 100 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert lima tingkat dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, kondisi lingkungan (β = 0,645; sig. = 0,000) dan tanda serta simbol (β = 0,637; sig. = 0,027) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen, sedangkan tata letak dan fungsionalitas (β = 0,111; sig. = 0,546) tidak berpengaruh signifikan. Secara simultan, ketiga dimensi servicescape berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen (F = 172,820; sig. = 0,000) dengan koefisien determinasi sebesar 84,4%. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya pengelolaan servicescape secara menyeluruh, terutama pada aspek kondisi lingkungan dan elemen visual, dalam upaya meningkatkan kepuasan konsumen warung kopi lokal.
Copyrights © 2026