Pemenuhan nutrisi pada seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan faktor kunci dalam pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pengetahuan orang tua mengenai praktik pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif dan makanan pendamping ASI (MP-ASI) berperan penting dalam memastikan kecukupan gizi anak sejak dini. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pengetahuan orang tua tentang ASI eksklusif dan MP-ASI di Indonesia serta hubungannya dengan karakteristik demografis dan wilayah tempat tinggal. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 853 responden dari 27 provinsi, menggunakan data High-Frequency Monitoring of COVID-19 Impacts (HiFy) yang dilaksanakan oleh World Bank, ronde ke-8 (Maret–April 2023). Analisis dilakukan dengan pembobotan sampel untuk memperoleh hasil yang representatif secara nasional. Hasil menunjukkan bahwa setelah pembobotan, data mewakili sekitar 17,17 juta orang tua yang memiliki anak usia 0–4 tahun di Indonesia. Sebanyak 52,4% responden mengetahui bahwa ASI eksklusif sebaiknya diberikan selama enam bulan, sedangkan 89,9% memiliki pengetahuan baik mengenai MP-ASI. Namun, masih terdapat kesenjangan pada aspek waktu mulai pemberian MP-ASI (54,8%) dan pemahaman terhadap sumber protein hewani (47%). Uji chi-square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ASI eksklusif maupun MP-ASI dengan wilayah tempat tinggal, wilayah geografis, maupun status pekerjaan (p>0,05). Pengetahuan orang tua mengenai MP-ASI tergolong baik, sedangkan pengetahuan tentang ASI eksklusif relatif lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dasar gizi anak telah relatif merata di masyarakat, namun masih diperlukan edukasi gizi yang lebih komprehensif, kontekstual, dan berkelanjutan untuk meningkatkan praktik pemberian makan anak di Indonesia.
Copyrights © 2026