Penelitian ini melakukan tinjauan literatur kualitatif mengenai peran tradisi keagamaan melalui pembiasaan doa dan pembacaan Al-Qur’an di sekolah sebagai ekosistem belajar yang meningkatkan motivasi dan hasil belajar afektif, serta menelaah persepsi siswa terhadap peraturan sekolah berdasarkan nilai-nilai pesantren dalam memicu motivasi belajar mandiri. Analisis menunjukkan bahwa pembiasaan doa yang konsisten dan dihargai menanamkan kesadaran bahwa belajar adalah ibadah, sementara pembacaan Al-Qur’an secara kolektif membangun ikatan emosional dengan kitab suci dan komunitas. Ekosistem ini meningkatkan motivasi intrinsik karena belajar menjadi panggilan spiritual daripada sekadar kewajiban. Hasil belajar afektif yang terbentuk lebih autentik dan bertahan lama, tercermin dalam perilaku sehari-hari yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan. Sementara itu, persepsi positif siswa terhadap aturan berbasis pesantren tumbuh ketika aturan disosialisasikan melalui dialog, guru menjadi teladan, dan siswa secara langsung merasakan manfaat dari kepatuhan. Persepsi positif ini memicu motivasi belajar mandiri karena siswa tidak lagi memerlukan pengawasan eksternal. Mereka belajar karena dorongan internal yang berasal dari nilai-nilai yang telah diinternalisasi. Dengan demikian, tradisi keagamaan dan kearifan lokal, jika dikelola dengan baik, menjadi fondasi yang kokoh untuk pembentukan karakter dan kemandirian belajar siswa. Temuan ini menunjukkan perlunya sekolah merancang program pembiasaan keagamaan sebagai proses internalisasi nilai yang bermakna yang melibatkan refleksi dan dialog yang berkelanjutan
Copyrights © 2026