Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi potensi kearifan lokal masyarakat Kerinci sebagai sumber belajar Kimia Dasar di perguruan tinggi. Berangkat dari tantangan globalisasi yang menyebabkan terkikisnya budaya lokal dan rendahnya relevansi pembelajaran kimia dengan kehidupan nyata, pendekatan etnokimia sebagai solusi inovatif untuk mengintegrasikan ilmu kimia dengan nilai-nilai budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif naturalistik dengan jenis penelitian etnografi, melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles Huberman serta analisis tema budaya Spradley. Hasil penelitian menunjukkan berbagai praktik budaya masyarakat Kerinci, seperti tradisi bapanteh, pembakaran kemenyan dalam upacara adat, fermentasi tapai ketan, konsumsi serbuk daun kawo, dan pembuatan gula enau, memiliki relevansi konsep dengan materi kimia seperti ikatan kimia, perubahan fisika dan kimia,pemisahan campuran, kimia larutan, dan senyawa organik. Pendekatan analogi, apersepsi, representasi, visualisasi, dan interpretasi budaya digunakan untuk memahami konsep kimia dengan pengalaman siswa lokal. Integrasi etnokimia dapat meningkatkan minat, motivasi, pemahaman konsep, serta membangun kesadaran dan apresiasi terhadap nilai-nilai budaya lokal. Temuan ini mendukung teori belajar konstruktivisme dan menunjukkan bahwa keterkaitan antara budaya lokal dan materi kimia mampu meningkatkan hasil belajar dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Oleh karena itu, etnokimia layak dijadikan sumber belajar alternatif yang secara ilmiah dan berkontribusi terhadap pelestarian budaya Indonesia.
Copyrights © 2026