Stunting pada balita tidak hanya berdampak pada gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif, tetapi juga menimbulkan konsekuensi jangka panjang terhadap produktivitas tenaga kerja serta potensi ekonomi. Penelitian ini bertujuan menganalisis besarnya potensi kerugian ekonomi akibat stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif melalui pengolahan data sekunder yang meliputi data prevalensi stunting yang bersumber dari e-PPGBM Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, data jumlah kelahiran dan data UMR yang bersumber dari Badan Pusat Statistik. Analisis perhitungan menggunakan rumus konig. Hasil menunjukkan prevalensi stunting sebesar 16,9% atau sekitar 64.507 balita. Stunting menyebabkan hilangnya potensi ekonomi dengan total kerugian di Provinsi Nusa Tenggara Timur mencapai 1,8 Triliun. Oleh karena itu, intervensi pencegahan stunting, khususnya pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan, perlu diprioritaskan sebagai investasi strategis untuk meningkatkan kualitas modal manusia dan keberlanjutan pembangunan ekonomi.
Copyrights © 2026