Kualitas udara dalam ruang menjadi faktor kunci dalam menentukan kesehatan dan kenyamanan penghuni, terutama pada bangunan ramah lingkungan yang dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas udara dalam ruang pada bangunan ramah lingkungan serta mengkaji dampaknya terhadap kondisi kesehatan penghuni. Metode yang digunakan adalah pendekatan campuran, dengan pengukuran kuantitatif terhadap parameter PM2.5, karbon dioksida, suhu, kelembaban, dan senyawa organik volatil, serta didukung data kuesioner terkait persepsi kenyamanan dan gejala kesehatan. Hasil menunjukkan bahwa kualitas udara dalam ruang berada pada kategori baik dan relatif stabil dibandingkan standar minimum. Sistem ventilasi menjadi faktor paling dominan dalam menjaga kestabilan kualitas udara, diikuti penggunaan material rendah emisi yang efektif menekan konsentrasi polutan. Namun, variasi kualitas udara masih terjadi pada ruang dengan kepadatan tinggi dan pada bangunan yang terpapar polusi luar ruang tinggi. Aktivitas penghuni juga memengaruhi fluktuasi kualitas udara, khususnya penggunaan bahan kimia dan pola pemanfaatan ruang. Analisis kesehatan menunjukkan hubungan antara kualitas udara dan keluhan ringan seperti kelelahan, sakit kepala, dan gangguan pernapasan. Tingkat keparahan gejala umumnya rendah. Secara keseluruhan, bangunan ramah lingkungan berpotensi meningkatkan kualitas udara dan kesehatan penghuni, dengan efektivitas yang bergantung pada desain, ventilasi, material, dan perilaku pengguna.
Copyrights © 2026