Industri gula merupakan sektor strategis dalam ekonomi pedesaan Indonesia, yang tidak hanya memengaruhi pendapatan petani tetapi juga membentuk struktur sosial dan akses terhadap pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keberadaan pabrik gula memengaruhi akses dan mutu pendidikan anak petani tebu, menggunakan pendekatan kajian literatur sistematis dan dianalisis melalui kerangka teori Pierre Bourdieu. Kajian mencakup literatur peer-reviewed dan laporan akademik dari 2010 hingga 2025 yang membahas industri gula, ketimpangan sosial, pendidikan pedesaan, dan modal sosial-budaya-ekonomi. Hasil kajian menunjukkan bahwa pabrik gula berfungsi sebagai arena sosial di mana distribusi kapital ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik tidak merata. Ketergantungan petani pada pabrik menyebabkan subordinasi ekonomi, memengaruhi kemampuan keluarga dalam membiayai pendidikan anak. Habitus agraris yang menekankan kerja fisik lebih tinggi daripada pendidikan formal berkontribusi pada rendahnya aspirasi akademik anak, sementara kapital sosial dan budaya yang terbatas membatasi akses terhadap informasi pendidikan dan peluang pengayaan. Hasil sintesis literatur menunjukkan bahwa ketimpangan pendidikan anak petani merupakan fenomena reproduksi lintas generasi yang bersifat struktural dan multidimensional. Penelitian ini menyarankan intervensi holistik yang mencakup penguatan modal budaya keluarga, peningkatan mutu sekolah pedesaan (guru, fasilitas, TIK), serta reformasi struktur industri gula, termasuk kebijakan harga adil dan program CSR berbasis transformasi sosial. Studi ini berkontribusi pada pemahaman bagaimana struktur ekonomi-industri dan praktik sosial di pedesaan membentuk akses pendidikan, serta memberikan dasar bagi pengembangan kebijakan pendidikan dan pembangunan pedesaan yang lebih inklusif.
Copyrights © 2026