Integrasi ChatGPT dalam perkuliahan telah menciptakan dilema antara efisiensi akademik dan pemeliharaan integritas mahasiswa sebagai calon guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa PPKn Universitas Negeri Medan (UNIMED) terhadap kebijakan penggunaan ChatGPT serta menganalisis pandangan etis mereka dalam kaitannya dengan tanggung jawab profesi sebagai calon guru. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap mahasiswa PPKn UNIMED sebagai informan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa berada dalam kondisi ambiguitas akademik akibat ketiadaan regulasi formal tertulis di tingkat program studi, sehingga arahan yang diterima hanya bersifat lisan dan imbauan moral. Secara fungsional, mahasiswa menggunakan AI sebagai instrumen pendukung (supporting tools) untuk memantik ide dan parafrase, namun secara etis mereka sepakat bahwa ketergantungan berlebihan berisiko mendegradasi daya kritis dan orisinalitas. Mahasiswa memandang bahwa integritas akademik merupakan cerminan marwah profesi guru, dimana manusia harus tetap menjadi kendali utama (brain) atas teknologi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan perumusan kebijakan formal yang bersifat regulatif dan edukatif untuk mengintegrasikan AI tanpa mengorbankan kualitas moral dan intelektual calon pendidik.
Copyrights © 2026