Media sosial mempercepat pembentukan citra diri, konsumsi simbolik, dan budaya pembandingan sosial di kalangan mahasiswa, sehingga kecenderungan gaya hidup hedonistik semakin mudah tumbuh. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana Lokapala Dhamma, yaitu hiri dan ottappa, diimplementasikan dalam mengendalikan gaya hidup hedonistik mahasiswa STAB Maha Prajna. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan observasi partisipasi pasif, dokumentasi, dan analisis tematik terhadap perilaku keseharian mahasiswa di lingkungan kampus serta representasi diri di media sosial yang bersifat terbuka. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hedonisme mahasiswa tampak pada kebiasaan mengikuti tren, konsumsi barang bermerek, dorongan tampil ideal di media sosial, dan pengeluaran untuk memperoleh pengakuan kelompok. Implementasi hiri berfungsi sebagai rasa malu moral yang menahan mahasiswa dari perilaku pamer, boros, dan hidup melebihi kemampuan, sedangkan ottappa bekerja sebagai kesadaran terhadap akibat finansial, akademik, sosial, dan spiritual dari perilaku tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa Lokapala Dhamma relevan sebagai kontrol moral internal yang memperkuat kesederhanaan, pengendalian diri, dan tanggung jawab mahasiswa di tengah tekanan budaya digital. Implikasi penelitian ini adalah perlunya integrasi pembinaan spiritual, literasi media sosial, dan pendampingan karakter di lingkungan
Copyrights © 2026