Krisis ekologis di Kabupaten Musi Rawas, Sumatra Selatan, tidak hanya menimbulkan degradasi lingkungan, tetapi juga berpeluang mengancam keberlangsungan seni tradisi lokal seperti kuntau. Artikel ini berupaya membaca kuntau musi rawas dalam perspektif eco art untuk menelaah bagaimana seni bela diri tradisional ini berfungsi sebagai praktik seni dan kesadaran ekologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi terhadap tiga belas pe-kuntau di delapan kecamatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual kuntau yang melibatkan unsur alam, seperti hutan, sungai, tumbuhan, dan fauna merepresentasikan relasi ekologis masyarakat Musi Rawas. Namun, deforestasi, pencemaran sungai, dan hilangnya habitat satwa berpotensi mendeterminasi eksistensi kuntau, mengikis makna kosmologisnya, dan menimbulkan krisis regenerasi. Dalam konteks eco art, kuntau dipahami sebagai praktik yang meneguhkan hubungan spiritual dan ekologis antara manusia dan alam. Revitalisasi kuntau melalui pendidikan budaya, kelembagaan seni, dan kolaborasi lintas sektor menjadi strategi penting untuk melestarikan kuntau di tengah krisis ekologis yang kian akut.
Copyrights © 2026