Pendidikan Agama Islam (PAI) kontemporer menghadapi fragmentasi epistemologis yang ditandai oleh pemisahan antara nalar kritis dan intuisi spiritual, sehingga melahirkan formalisme kognitif dan melemahnya orientasi etis-spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi epistemologi hads Ibn Sina sebagai model perolehan pengetahuan yang integratif antara rasionalitas dan intuisi. Penelitian ini merupakan kajian filosofis kualitatif dengan pendekatan epistemologis-hermeneutik melalui analisis isi terhadap karya-karya utama Ibn Sina, seperti Al-Isyarat wa al-Tanbihat, An-Najat, dan Ahwal al-Nafs. Pembahasan difokuskan pada tiga aspek utama, yaitu mekanisme hads sebagai intuisi intelektual, demarkasi antara epistemologi psikologis dan kosmologi emanasi, serta transformasi hierarki jiwa dan tahapan akal ke dalam kerangka kurikulum PAI kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hads dapat direaktualisasikan sebagai bentuk tertinggi rasionalitas tanpa bergantung pada konsep Akal Aktif (Aql Fa’al) yang problematis, dengan mereposisi sumber pengetahuan pada Nur Ilahi. Rekonstruksi ini memungkinkan integrasi antara ‘aql nazhari dan ‘aql ‘amali dalam paradigma pendidikan yang holistik melalui penguatan nalar, pembinaan adab, dan penyucian jiwa. Secara teoretis, penelitian ini menawarkan sintesis epistemologis bagi pengembangan pendidikan Islam, dan secara praktis memberikan landasan konseptual bagi perumusan kurikulum PAI yang lebih integratif dan transformatif di era kontemporer.
Copyrights © 2026