Problem intoleransi yang berakar dari pandangan fundamentalis dan fanatisme dalam berkeyakinan, menjadi problem yang harus dihadapi. Salah satu cara untuk menghadapi problem ini, adalah dengan mengangkatnya menjadi topik sebuah lagu. Band indie asal Yogyakarta, FSTVLST, berusaha mengangkat problem intoleransi dengan lagu berjudul “Orang-Orang di Kerumunan”. Penelitian ini berusaha menggali bagaimana makna intoleransi direpresentasikan oleh lirik lagu tersebut. Dengan memakai analisis semiotika Ferdinand de Saussure, penelitian ini berusaha mencari penanda (aspek material), petanda (aspek mental), dan signifikasi (realitas eksternal) dari lirik lagu “Orang-Orang di Kerumuman”. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa, pertama, penulis lirik menggambarkan kondisi orang-orang yang terjebak dalam fanatisme dan kehilangan jiwa. Kedua, orang-orang yang kehilangan jiwa tadi, terjebak dalam keterbelahan (friksi) dan justru saling menyalahkan satu sama lain. Ketiga, penulis lirik menyampaikan solusi etis di mana manusia harus kembali dalam nilai-niali keutamaan, seperti cinta, persaudaraan, dan kekeluargaan. Keempat, penulis lirik menyampaikan kekecewaannya atas praktik intoleransi yang terjadi, di mana keindahan sudah tidak berarti lagi, berganti dengan umpatan, cacian, makian, dan saling melukai.
Copyrights © 2026