Pembelajaran STEAM adalah cara belajar yang membantu peserta didik berpikir dan menyelesaikan masalah. Dalam proses belajar, metode ini menggabungkan beberapa bidang ilmu seperti sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan di masa depan. Karena dunia semakin berkembang dan membutuhkan inovasi, pendekatan ini sangat penting. Namun, di Indonesia, khususnya di sekolah dasar, masih sedikit sekolah yang menerapkan pembelajaran STEAM ini. Hal ini karena belum semua guru memahami secara mendalam model pembelajaran ini. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak 27 guru sekolah dasar. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang terdiri atas 20 pernyataan menggunakan skala Likert empat tingkat dan disebarkan secara daring melalui Google Form. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, dan statistik deskriptif dengan bantuan program SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan dinyatakan valid dengan nilai r-hitung lebih besar daripada r-tabel (0,380) dan instrumen memiliki reliabilitas yang sangat tinggi dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,927. Implementasi pembelajaran STEAM di sekolah dasar berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata 50,04 serta respon positif dari guru dan siswa. Guru menunjukkan kesiapan dan pemahaman yang memadai dalam menerapkan pembelajaran STEAM, didukung oleh peran kepala sekolah dan kolaborasi antar guru. Meskipun demikian, pada aspek fasilitas sekolah masih ditemukan beberapa keterbatasan serta belum meratanya penerapan pembelajaran, sehingga diperlukan peningkatan dan pemerataan fasilitas untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran STEAM secara optimal dan berkelanjutan
Copyrights © 2026