Penelitian ini menganalisis fenomena alih kode dan campur kode dalam cerpen "Warung Penajem" karya Ahmad Tohari sebagai cerminan dinamika sosial dan identitas kultural masyarakat Jawa multilingual. Latar belakang penelitian didasari pada pentingnya kajian sosiolinguistik dalam karya sastra, mengingat minimnya studi yang menghubungkan praktik kebahasaan dengan stratifikasi sosial secara integratif. Tujuan penelitian adalah mengungkap bagaimana alih kode dan campur kode merepresentasikan negosiasi identitas, relasi kekuasaan, dan posisi sosial tokoh-tokoh dalam cerpen tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa cerpen "Warung Penajem" yang dikumpulkan melalui teknik baca, simak, dan catat. Purposive sampling diterapkan untuk memilih data berupa kata-kata dan dialog yang memuat peristiwa alih kode dan campur kode. Hasil analisis menemukan satu bentuk alih kode pada tuturan tokoh Jum "Dengarlah, saya mau bicara" yang berfungsi sebagai strategi menegaskan otoritas di tengah ketegangan relasional, serta enam bentuk campur kode berupa penyisipan kosakata bahasa Jawa seperti "Kang", "Oalah", "eling", "wareg, anget, rapet", "begitu-begitu", dan "enak-kepenak" yang merepresentasikan nilai-nilai filosofis, emosi, dan konsep kebahagiaan komunal khas budaya Jawa. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa alih kode dan campur kode bukan sekadar pewarna lokal, melainkan strategi linguistik aktif untuk menavigasi hierarki sosial, mempertahankan kohesi kelompok, dan mengekspresikan identitas kultural yang tidak terwakili secara memadai dalam bahasa Indonesia baku. Implikasi penelitian ini mencakup kontribusi teoretis bagi sosiolinguistik dengan menempatkan karya sastra sebagai laboratorium sosial otentik, serta rekomendasi praktis bagi kebijakan bahasa yang inklusif di Indonesia yang multilingual.
Copyrights © 2026