Seni tutur kantola merupakan tradisi lisan masyarakat Muna yang berfungsi sebagai ruang ekspresi, media komunikasi, hiburan, pendidikan, serta penyampai kritik sosial melalui bahasa kiasan. Keberadaan kantola di Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat, mengalami penurunan intensitas pementasan akibat perubahan selera hiburan, modernisasi media, dan melemahnya regenerasi penutur. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis fungsi serta makna seni tutur kantola pada masyarakat Muna di Kecamatan Lawa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka fungsional-struktural dan semiotika. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pelaku kantola, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga pendukung tradisi, serta studi dokumen berupa teks syair kantola. Analisis data dilakukan melalui reduksi, klasifikasi, kategorisasi, penafsiran makna, dan penarikan simpulan secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kantola memiliki fungsi sosial, fungsi pendidikan, fungsi hiburan, dan fungsi kontrol terhadap pemerintah. Makna yang terkandung dalam kantola meliputi makna politik, percintaan, religius, dan estetika. Syair kantola menggunakan simbol alam, tumbuhan, benda, nama tokoh, dan citra keindahan untuk menyampaikan pesan secara halus, etis, dan komunikatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kantola bukan sekadar hiburan tradisional, melainkan sistem komunikasi budaya yang merekam memori kolektif, nilai moral, relasi sosial, dan pandangan hidup masyarakat Muna. Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kajian tradisi lisan, pendidikan seni berbasis budaya lokal, serta strategi pelestarian warisan budaya takbenda melalui dokumentasi teks, pementasan, dan integrasi pembelajaran seni budaya.
Copyrights © 2024