Kesiapsiagaan bencana di sekolah merupakan aspek penting dalam upaya mitigasi kebencanaan terutama di wilayah Indonesia dengan tingkat kerawanan yang sangat tinggi. Berdasarkan data BPBD 2025 setiap tahunnya lebih dari 2.500 sekolah terdampak bencana dengan total 15.000 sekolah dalam 15 tahun terakhir, dan 75% sekolah berada di wilayah kebencanaan. Namun hanya 25% yang memiliki kesiapsiagaan bencana yang baik. SMP Nurul Huda Simolawang Surabaya merupakan salah satu sekolah yang belum memiliki sistem kesiapsiagaan bencana yang terstruktur. Adanya kegiatan pengabdian masyarakat bertujuan untuk mengembangkan sistem kesiapsiagaan sekolah melalui kegiatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif dan partisipatif yang menekankan pada keterlibatan aktif peserta dalam proses pembelajaran, diskusi kelompok, FGD (Focus Group Discussion), serta praktik kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah. Kegiatan ini melibatkan kurang lebih 30 peserta yang terdiri dari guru, tenaga pendidik, dan siswa. Indikator keberhasilan kegiatan diukur melalui perubahan kondisi kesiapsiagaan sebelum dan sesudah intervensi serta peningkatan pemahaman peserta secara deskriptif. Hasil kegiatan diharapkan adanya peningkatan kesiapsiagaan yang ditandai dengan terbentuknya tim tanggap bencana, tersedianya jalur dan titik kumpul evakuasi, peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta yang dilihat melalui keaktifan diskusi, kemampuan mengidentifikasi risiko, dan keterampilan dalam simulasi evakuasi dengan total 233 peserta didik, serta penerbitan Standar Operasional (SOP) pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana untuk sekolah SMP Nurul Huda Simolawang.
Copyrights © 2026