Media sosial, khususnya Instagram, telah menjadi arena visual dominan yang membentuk bagaimana perempuan merepresentasikan dan memahami identitas mereka di era digital. Meskipun menawarkan ruang untuk ekspresi dan kreativitas, teknologi estetika digital seperti filter kecantikan, penambah tampilan wajah, dan pengaturan visual yang terkurasi secara bersamaan menumbuhkan kondisi hiperrealitas yang menempatkan identitas perempuan dalam standar kecantikan yang tidak realistis. Artikel ini menunjukkan bahwa fitur-fitur Instagram berkontribusi pada pengurangan identitas, menjadikan perempuan sebagai objek visual yang dievaluasi melalui performativitas estetika daripada subjek otonom dengan beragam pengalaman sosial. Dengan menggunakan pendekatan etnografi virtual, studi ini mengeksplorasi bagaimana perempuan membangun citra diri mereka melalui praktik pengeditan foto, kurasi konten, dan adaptasi terhadap algoritma platform. Temuan mengungkapkan dominasi logika visual yang menormalisasi tubuh ideal, menghasilkan tekanan representasional dan memicu ketidakpuasan tubuh, kecemasan sosial, stres performatif, dan krisis otentisitas. Lebih lanjut, studi ini mengidentifikasi munculnya "diri ganda" di mana persona digital hiperrealistis semakin menutupi identitas nyata yang lebih rapuh. Artikel ini berpendapat bahwa Instagram bukan hanya media untuk ekspresi diri, tetapi juga mekanisme budaya yang mereproduksi komodifikasi tubuh perempuan dan ikut campur dalam cara perempuan menafsirkan eksistensi mereka sendiri.
Copyrights © 2026