Abstract. This article aims to explore the reconstruction of religious moderation (wasathiyyah) within the horizon of Islamic da’wah amidst the complexities of Indonesia's multicultural society. Utilizing a qualitative library research method, this study dissects how moderate values are produced and distributed in the digital age. The findings indicate that moderation is no longer merely a static theological doctrine but has evolved into a dynamic communicative strategy. In practice, digital da’wah is heavily influenced by media framing, where the construction and "packaging" of messages determine whether the audience embraces peaceful narratives or becomes ensnared in polarization. Crucial challenges arise from echo chamber effects and the fragmentation of religious authority, which frequently marginalize moderate messages. Consequently, future da’wah strategies must master creative framing praxis, packaging Islamic substance through inclusive visual language that remains responsive to local nuances. Through precise narrative framing, digital media can transcend its role as a mere transmission tool, transforming into a dialogical space that reinforces social cohesion and harmony within a pluralistic nation. Abstrak. Artikel ini bertujuan mengeksplorasi rekonstruksi konsep moderasi beragama (wasathiyyah) dalam cakrawala dakwah Islam di tengah kompleksitas masyarakat multikultural Indonesia. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi kepustakaan, penelitian ini membedah bagaimana nilai-nilai moderasi diproduksi dan didistribusikan di era digital. Temuan menunjukkan bahwa moderasi kini bukan sekadar doktrin teologis statis, melainkan sebuah strategi komunikasi yang dinamis. Dalam praktiknya, dakwah digital sangat dipengaruhi oleh framing media, di mana cara pesan dikonstruksi dan "dibungkus" menentukan apakah audiens akan menerima narasi damai atau justru terjebak dalam polarisasi. Tantangan krusial muncul dari efek echo chamber dan fragmentasi otoritas keagamaan yang sering kali menenggelamkan pesan-pesan moderat. Oleh karena itu, strategi dakwah masa depan harus mampu menguasai praksis framing yang kreatif, mengemas substansi keislaman dengan bahasa visual yang inklusif dan responsif terhadap isu lokal. Melalui pembingkaian narasi yang tepat, media digital dapat bertransformasi dari sekedar alat transmisi menjadi ruang dialogis yang memperkuat kohesi sosial dan harmoni di tengah keberagaman bangsa.
Copyrights © 2026