Penggunaan simbol hewan dalam karya seni dan sastra telah menjadi medium alegoris yang kuat sejak puluhan ribu tahun lalu untuk merepresentasikan tingkah laku, moralitas, hingga kritik sosial manusia. Penelitian ini mengkaji fenomena simbolisasi hewan dan hubungan timbal balik antara manusia dan hewan dalam naskah drama Manufaktur Anatomi Kera karya Gulang Satriya Pangarso. Naskah Ini menampilkan narasi unik mengenai pemujaan terhadap kera sebagai refleksi atas krisis eksistensial manusia. Tujuan dari penelitian Ini adalah untuk mendeskripsikan narasi dan bentuk-bentuk absurditas yang terdapat dalam naskah tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Analisis dilakukan dengan berlandaskan pada teori Absurdisme Albert Camus sebagai kerangka utama, yang didukung oleh teori Semiotika Roland Barthes sebagai pendekatan untuk membedah tanda-tanda simbolik dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Narasi absurditas dalam naskah Manufaktur Anatomi Kera terkonstruksi melalui jalinan alur yang tidak linear, dialog-dialog yang melampaui logika konvensional, serta karakterisasi tokoh yang terjebak dalam kondisi anomali; (2) Bentuk-bentuk absurditas termanifestasi dalam penggambaran semesta yang absurd, upaya tokoh dalam pencarian makna dan kedamaian hidup di tengah kekacauan, serta munculnya konsep spiritualisme yang tidak lazim melalui pemujaan terhadap hewan. Penelitian Ini menyimpulkan bahwa simbolisasi kera dalam naskah tersebut bukan sekadar figuratif, melainkan representasi dari keterasingan manusia dan upaya sia-sia dalam mencari pegangan hidup di tengah dunia yang tak masuk akal.Kata kunci: Absurdisme, Manufaktur Anatomi Kera, Albert Camus, Semiotika, Simbolisme Hewan
Copyrights © 2026