ABSTRACT Sex education in Indonesia remains a controversial issue, particularly at the junior high school level, resulting in limited adolescent understanding of reproductive health. This study aims to analyze how sex education at SMPN X Yogyakarta fosters adolescents’ awareness and understanding, as well as to identify the supporting and inhibiting factors in its implementation. This research employs a qualitative approach with a case study design, involving one guidance counselor and four ninth-grade students selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The findings reveal that prior to formal sex education, students had very limited knowledge and were largely influenced by inaccurate information from peers and social media. The implementation of sex education in schools has been shown to improve students’ understanding of reproductive health, correct misconceptions, and promote more responsible behavior, such as the ability to resist peer pressure and increased self-awareness. However, its implementation still faces several challenges, including social stigma, embarrassment, limited instructional time, and cultural as well as institutional constraints. Therefore, a more comprehensive and interactive approach, along with support from parents and educational policies, is needed to enhance the effectiveness of sex education in schools. ABSTRAK Pendidikan seks di Indonesia masih menjadi isu kontroversial, khususnya di tingkat sekolah menengah pertama, sehingga berdampak pada rendahnya pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pendidikan seks di SMPN X Yogyakarta membangun kesadaran dan pemahaman remaja, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan satu guru BK dan empat siswa kelas IX yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum mendapatkan pendidikan seks formal, siswa memiliki pengetahuan yang sangat terbatas dan cenderung dipengaruhi oleh informasi yang tidak akurat dari teman sebaya dan media sosial. Implementasi pendidikan seks di sekolah terbukti mampu meningkatkan pemahaman siswa tentang kesehatan reproduksi, meluruskan miskonsepsi, serta membentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab, seperti kemampuan menolak tekanan teman sebaya dan meningkatkan kesadaran diri. Namun demikian, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai hambatan, seperti stigma sosial, rasa malu, keterbatasan waktu pembelajaran, serta pengaruh budaya dan kebijakan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, interaktif, serta dukungan dari orang tua dan kebijakan pendidikan untuk meningkatkan efektivitas pendidikan seks di sekolah.
Copyrights © 2026