Fenomena dress style remaja masa kini mengalami perkembangan pesat seiring globalisasi, kemajuan teknologi, serta pengaruh media sosial dan budaya populer. Gaya berpakaian tidak lagi sekadar kebutuhan dasar, tetapi telah menjadi sarana ekspresi diri, pembentukan identitas, dan simbol status sosial. Kondisi ini menimbulkan berbagai dampak, baik positif maupun negatif, seperti meningkatnya rasa percaya diri, terbentuknya citra diri, perilaku konsumtif, tekanan sosial, hingga pergeseran nilai dan norma. Ketertarikan untuk memvisualisasikan fenomena tersebut mendorong penciptaan karya seni grafis sebagai bentuk refleksi dan kritik sosial terhadap realitas yang terjadi di kalangan remaja. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya ini melalui beberapa tahapan, yaitu: (1) Persiapan, (2) Elaborasi, (3) Sintesis, (4) Realisasi Konsep, dan (5) Penyelesaian. Teknik yang digunakan adalah relief print (cetak tinggi) dengan media klise karet lino dan metode pewarnaan polychrome untuk memperkuat ekspresi visual. Berdasarkan metode tersebut terwujud sepuluh karya seni grafis berjudul “Bukan Aku Tapi Norma”, “Pay Letter”, “Gaya yang Tergadai”, “Hanyut”, “Perjamuan Hutang”, “Ketenangan yang Palsu”, “Tak Cukup Pantas”, “Power Money”, “Citra Derita”, dan “Tergiur Diskon Terbelenggu Trend”.
Copyrights © 2026