Tantangan pembelajaran di era modern menuntut pendekatan yang tidak sekadar mentransfer informasi, melainkan membangun pemahaman yang mendalam pada diri peserta didik. Epistemologi konstruktivisme menawarkan landasan filosofis yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut, khususnya di lingkungan Sekolah Dasar Islam yang memiliki kekhasan dalam memadukan ilmu umum dan nilai-nilai keislaman. Artikel ini bertujuan mengkaji landasan epistemologi konstruktivisme menurut Piaget dan Vygotsky, menganalisis titik temunya dengan konsep epistemologi Islam, serta merumuskan implikasi praktisnya bagi guru Sekolah Dasar Islam. Kajian ini menggunakan pendekatan studi konseptual berbasis analisis literatur dari jurnal-jurnal ilmiah nasional dan internasional serta buku-buku referensi yang relevan. Epistemologi konstruktivisme memandang pengetahuan bukan sebagai sesuatu yang diterima secara pasif, melainkan dibangun secara aktif oleh individu melalui interaksi dengan lingkungan. Pandangan ini sejalan dengan epistemologi Islam yang menekankan penggunaan akal ('aql), potensi fitrah manusia, serta prinsip iqra' sebagai dorongan untuk terus mencari dan mengonstruksi ilmu. Titik temu kedua pandangan ini menghasilkan model pembelajaran yang aktif, bermakna, dan berkarakter islami. Guru Sekolah Dasar Islam perlu menginternalisasi prinsip-prinsip epistemologi konstruktivisme yang bersinergi dengan epistemologi Islam sebagai fondasi dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan secara kognitif, tetapi juga membentuk karakter peserta didik yang beriman dan berpikir kritis.
Copyrights © 2026