Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pemaknaan Generasi X dan Generasi Z terhadap pengalaman interaksi dengan kurasi algoritmik informasi Ibu Kota Nusantara (IKN) di media sosial. Dengan menggunakan pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), penelitian ini menggali pengalaman subjektif kedua kelompok dalam menghadapi paparan konten yang terpersonalisasi. Temuan menunjukkan bahwa algoritma tidak sekadar dipersepsikan sebagai mekanisme teknis distribusi informasi, melainkan sebagai bagian dari pengalaman keseharian digital yang membentuk cara pengguna mengetahui, merasakan, dan memahami realitas politik. Fenomena keseragaman informasi atau filter bubble dimaknai secara beragam dan lebih tepat dipahami sebagai pengalaman epistemik yang dinamis, bukan sekadar efek teknologis yang deterministik. Pada level afektif, muncul spektrum respons emosional dari penerimaan normatif hingga skeptisisme reflektif, disertai strategi adaptif dan manajemen privasi sebagai bentuk negosiasi dengan sistem. Secara konseptual, penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan generasional tidak bersifat hierarkis, serta bahwa dalam konteks Indonesia kurasi algoritmik lebih membentuk ambivalensi dan negosiasi makna daripada polarisasi ekstrem. Dengan demikian, studi ini menawarkan pemahaman fenomenologis yang memperluas literatur mengenai relasi manusia–algoritma dalam konteks politik kontemporer.
Copyrights © 2026