Perubahan iklim global memberikan dampak serius terhadap ketersediaan air tanah, termasuk di wilayah pesisir yang setiap tahun menghadapi krisis air bersih. Masyarakat pesisir, khususnya nelayan, merupakan kelompok paling rentan karena tidak hanya berhadapan dengan keterbatasan akses air bersih, tetapi juga dengan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi. Desa Way Redak di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung, sebagai salah satu kawasan 3T (terluar, terdepan, tertinggal), menghadapi kondisi tersebut dengan kompleksitas permasalahan yang tinggi. Pada tahun 2024, tim pengabdian masyarakat telah melaksanakan program restorasi ekosistem buatan terumbu karang untuk merespons penurunan hasil tangkapan ikan. Namun, persoalan mendesak lainnya adalah kerentanan ketersediaan air bersih akibat intrusi air laut yang didorong oleh perubahan iklim dan kondisi geografis Desa Way Redak yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Menjawab permasalahan tersebut, program pengabdian tahun 2025 difokuskan pada instalasi teknologi membran ultrafiltrasi sebagai alternatif penyediaan air bersih siap konsumsi. Teknologi ini secara empiris terbukti mampu mengolah sumber air yang kurang layak menjadi air yang aman diminum. Implementasi kegiatan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga mendukung aktivitas jamaah masjid setempat serta meningkatkan kenyamanan wisatawan yang berkunjung ke Pulau Pisang. Selain itu, penyediaan fasilitas air minum ini berpotensi memitigasi pencemaran plastik dari penggunaan botol sekali pakai yang sering ditinggalkan wisatawan. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan ketahanan lingkungan, kesehatan masyarakat pesisir, serta mendukung keberlanjutan pariwisata bahari di Krui.
Copyrights © 2026