Penelitian ini menganalisis konstruksi gender dan relasi kuasa dalam empat lagu duet Rhoma Irama, yaitu “Mandul” (1974), “Cuma Kamu” (1976), “Malam Terakhir” (1972), dan “Pertemuan” (1995), dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Sara Mills. Kerangka analisis Mills digunakan untuk menelaah posisi subjek-objek, posisi pembaca/pendengar, serta implikasi sosial yang terkandung dalam lirik lagu-lagu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat lagu secara konsisten menempatkan laki-laki sebagai subjek dominan yang mengontrol narasi, sementara perempuan diposisikan sebagai objek pasif yang bergantung pada keputusan dan otoritas laki-laki. Dalam “Mandul”, kemandulan dikonstruksi sebagai beban perempuan dan empati laki-laki berfungsi sebagai bentuk “pengampunan” patriarki. Dalam “Cuma Kamu”, ketergantungan emosional dinormalisasi tanpa memberi ruang bagi suara perempuan. Lagu “Malam Terakhir” menampilkan laki-laki sebagai pengendali momen perpisahan, sedangkan perempuan hanya menerima dan menurut. Dalam “Pertemuan”, meskipun liriknya menggambarkan kerinduan bersama, posisi perempuan tetap pasif dan ditentukan oleh narasi laki-laki. Secara keseluruhan, lagu-lagu duet Rhoma Irama mereproduksi dan memperkuat ideologi patriarki melalui musik dangdut sebagai medium budaya populer yang memiliki jangkauan luas di masyarakat Indonesia.
Copyrights © 2026