Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi mitigasi risiko investasi saham Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2025 di tengah meningkatnya dominasi investor ritel muda dan tingginya volatilitas pasar perdana. Pertumbuhan jumlah investor domestik yang pesat tidak sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan literasi keuangan dan pemahaman risiko investasi, sehingga memunculkan kecenderungan perilaku spekulatif seperti herd behavior, overconfidence bias, dan fear of missing out (FOMO). Penelitian menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan studi kasus terhadap dinamika pasar IPO tahun 2025, khususnya pada emiten yang mengalami volatilitas ekstrem pasca-listing. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), prospektus emiten, serta publikasi ilmiah terkait. Teknik analisis dilakukan melalui content analysis terhadap prospektus IPO dan analisis deskriptif terhadap perilaku pasar serta performa saham pasca-IPO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pemahaman investor terhadap mekanisme pasar perdana dan sekunder meningkatkan risiko terjadinya winner’s curse dan overvaluation pada saham IPO. Selain itu, tingginya eksposur media sosial dan fenomena oversubscription sering kali mendorong keputusan investasi yang tidak rasional. Penelitian ini merumuskan empat strategi mitigasi risiko utama bagi investor ritel, yaitu analisis prospektus secara mendalam, evaluasi reputasi underwriter dan auditor, integrasi aspek Environmental, Social, and Governance (ESG), serta penerapan diversifikasi portofolio dinamis. Strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan investasi dan memperkuat perlindungan investor di pasar modal Indonesia.
Copyrights © 2026