Adanya transformasi digital yang telah hadir dengan berbagai aspek dalam sistem pendidikan telah membuat perkembangan teknologi informasi, kecerdasan buatan, dan algoritma pembelajaran berubah secara fundamental dalam cara manusia mengakses dan mengolah informasi tentang pengetahuan. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga merupakan alat dalam membentuk identitas, nilai, dan karakter peserta didik. Pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi tantangan fundamental berupa ketegangan antara tuntutan akselerasi digital dan kebutuhan untuk mempertahankan nilai-nilai karakter bangsa. Oleh karena itu, bagaimana pendidikan tetap mampu menjaga esensi karakter bangsa di tengah gempuran transformasi digital yang bersifat disruptif ini? Jadi, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana landasan pendidikan yang menurut Ki Hadjar Dewantara dapat dikonstruksi ulang guna menjaga esensi kemanusiaan peserta didik di tengah dominasi kecerdasan buatan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif melalui pendekatan studi kepustakaan (library research). Artikel ini menelaah berbagai literatur relevan untuk mendeskripsikan pergeseran peran guru serta fenomena pragmatisme teknologi yang berisiko mengancam nilai-nilai luhur seperti gotong royong, tepa selira, dan musyawarah. Artikel ini menyimpulkan bahwa transformasi digital di sekolah harus diimbangi dengan penguatan landasan sosiokultural agar teknologi berfungsi sebagai alat pendukung, bukan penentu tujuan pendidikan yang mendangkalkan karakter bangsa.
Copyrights © 2026