Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh kepanikan berbicara dalam proses produksi bahasa lisan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas HKBP Nommensen Medan dalam kajian psikolinguistik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner yang diberikan kepada delapan mahasiswa yang pernah mengalami kesulitan berbicara saat presentasi di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepanikan berbicara merupakan fenomena umum yang dialami mahasiswa, ditandai dengan gejala psikologis dan fisik seperti gugup, jantung berdebar, pikiran kosong, serta rasa takut terhadap penilaian audiens dan dosen. Dalam perspektif psikolinguistik, kepanikan tersebut mengganggu proses produksi bahasa lisan yang meliputi tahap konseptualisasi, formulasi, dan artikulasi, sehingga menyebabkan disfluensi seperti terbata-bata, pengulangan kata, dan penyampaian yang tidak runtut. Penelitian ini juga menemukan bahwa penguasaan materi merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi kelancaran berbicara, karena mampu meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi kepanikan. Selain itu, faktor internal seperti kecemasan dan kurangnya kepercayaan diri, serta faktor eksternal seperti tekanan audiens dan situasi kelas, turut memengaruhi kemampuan berbicara mahasiswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara penguasaan materi, kepanikan, dan kelancaran berbicara dalam proses produksi bahasa lisan mahasiswa. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan penguasaan materi, latihan berbicara secara rutin, serta pengelolaan emosi untuk meningkatkan kemampuan berbicara mahasiswa
Copyrights © 2026