Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menggeser lanskap disinformasi dari hoaks tekstual menjadi konten audiovisual sintetis berupa deepfake. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas strategi literasi digital dalam meningkatkan kemampuan siswa sekolah menengah (Generasi Alpha) mengidentifikasi berita hoaks dan video deepfake. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional terhadap 150 siswa SMP/SMK di Yogyakarta, penelitian ini menguji korelasi antara literasi digital operasional dan literasi visual kritis terhadap akurasi deteksi konten. Data dikumpulkan melalui Skala Literasi Digital, Digital Discernment Test, dan Skala Efikasi Diri yang telah divalidasi (Cronbach's Alpha > 0,7). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun siswa memiliki kemahiran teknis yang tinggi, akurasi mereka dalam mengenali deepfake berada pada tingkat yang sangat rendah (18%). Analisis regresi menunjukkan bahwa strategi literasi visual kritis berkorelasi positif kuat terhadap akurasi deteksi deepfake (r = 0,78; p < 0,01), sementara literasi digital operasional hanya menunjukkan korelasi lemah (r = 0,12). Temuan ini mengonfirmasi adanya "paradoks konektivitas", di mana kedekatan dengan teknologi tidak berbanding lurus dengan kemampuan verifikasi informasi. Penelitian ini merekomendasikan integrasi kurikulum literasi AI yang mencakup skeptisisme sehat dan pengenalan anomali visual AI untuk memitigasi risiko psikososial akibat paparan disinformasi yang masif di media sosial.
Copyrights © 2026