Era Society 5.0 dan Industri 4.0 menuntut lulusan pendidikan kejuruan memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Namun, kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saat ini masih cenderung berfokus pada penguasaan keterampilan teknis dan metode hafalan, sehingga belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan dunia usaha dan industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi integrasi kemampuan berpikir kritis dalam kurikulum pendidikan kejuruan pada era Industry 4.0 dan Society 5.0. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran artikel ilmiah pada database Google Scholar, ScienceDirect, ResearchGate, dan Neliti dengan rentang tahun publikasi 2020–2026. Dari hasil penelusuran diperoleh 23 artikel yang relevan dan dianalisis secara sistematis menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kemampuan berpikir kritis dapat dilakukan melalui penerapan model pembelajaran aktif seperti Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), Discovery Learning, dan pendekatan kognitif terstruktur. Selain itu, integrasi teknologi digital seperti Augmented Reality (AR), Internet of Things (IoT), flipbook, coding, dan Artificial Intelligence (AI) juga terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMK. Meskipun demikian, implementasi masih menghadapi kendala berupa rendahnya literasi digital guru, keterbatasan fasilitas, dan belum optimalnya integrasi berpikir kritis dalam kurikulum. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, serta dukungan infrastruktur digital yang memadai agar pendidikan kejuruan lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21.
Copyrights © 2026