Amidst the rapid flow of globalization and foreign popular culture, Indonesia's younger generation is increasingly alienated from local cultural heritage such as batik, and has minimal awareness of environmental issues and responsible consumption. This Community Service (PKM) activity was chosen to address the low level of high school students' involvement in local cultural practices and contextual environmental education. Batik, as Indonesia's intangible cultural heritage, is not merely a textile art product, but also a medium for communicating philosophical values, history, and the relationship between humans and nature. However, the involvement of school-age youth in creative activities based on local culture, particularly batik, remains very low, so it needs to be reintroduced through a medium close to the youth's lifestyle, namely environmentally friendly canvas hats. The method used is an educational-participatory approach based on cultural communication and environmental communication. The activity is carried out in five stages: preparation, an educational seminar, a workshop on batik painting on hats, reflection on work, and evaluation. Each stage is designed to encourage active participation and shape students' understanding of cultural values and environmental awareness. Evaluation is carried out using pre- and post-tests as well as direct observation of the process and results of the work. This activity supports the achievement of SDGs 12 and 13 and aligns with UNTAR's PKM theme No. 8, which focuses on strengthening public communication on media, culture, and sustainability. It is also expected to foster creativity, a sense of ownership of local culture, and encourage sustainable changes in environmentally conscious consumption behavior among the younger generation. ABSTRAK Di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya populer asing, generasi muda Indonesia kian terasing dari warisan budaya lokal seperti batik, serta minim kesadaran terhadap isu lingkungan dan konsumsi yang bertanggung jawab. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dipilih untuk merespons rendahnya keterlibatan pelajar SMA dalam praktik budaya lokal dan edukasi lingkungan yang kontekstual. Batik, sebagai warisan budaya takbenda Indonesia bukan hanya sekadar produk seni tekstil, tetapi juga media komunikasi nila-nilai filososfis, sejarah, dan relasi manusia dengan alam. Namun, keterlibatan remaja usia sekolah terhadap aktivitas kreatif berbasis budaya lokal, khususnya membatik masih sangat rendah, sehingga perlu diperkenalkan kembali melalui media yang dekat dengan gaya hidup remaja, yaitu topi kanvas ramah lingkungan. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatifpartisipatoris berbasis komunikasi budaya dan komunikasi lingkungan. Kegiatan dilakukan dalam lima tahap: persiapan, seminar edukatif, workshop praktik melukis batik di atas topi, refleksi karya, dan evaluasi. Setiap tahap dirancang untuk mendorong partisipasi aktif dan membentuk pemahaman siswa terhadap nilai budaya serta kesadaran lingkungan. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test serta observasi langsung terhadap proses dan hasil karya. Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 12 dan 13, serta sejalan dengan tema unggulan PKM UNTAR No. 8 tentang penguatan kualitas komunikasi masyarakat dalam isu media, budaya, dan keberlanjutan. Kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan kreativitas, rasa memiliki terhadap budaya lokal, serta mendorong perubahan perilaku konsumsi yang lebih sadar lingkungan di kalangan generasi muda secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026