Artikel ini membahas keragaman penghayatan Kristologis dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru, dari perspektif teologi dogmatika. Kristologi merupakan pokok ajaran sentral dalam Kekristenan yang berfokus pada pribadi dan karya Yesus Kristus. Namun, kajian mendalam terhadap Alkitab menunjukkan bahwa penghayatan iman terhadap Yesus Kristus tidak disajikan dalam bentuk yang seragam. Setiap penulis Perjanjian Baru menghadirkan penekanan yang berbeda sesuai dengan konteks historis, latar belakang jemaat, serta tujuan teologis masing-masing. Injil Matius menampilkan Yesus sebagai Mesias yang menggenapi nubuat Perjanjian Lama, Markus menekankan Kristus sebagai Hamba yang menderita, Lukas menggambarkan Yesus sebagai Juruselamat universal, dan Yohanes menegaskan Yesus sebagai Logos yang ilahi. Selain itu, surat-surat Paulus memperkaya pemahaman ini dengan menekankan keselamatan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Dalam perspektif teologi dogmatika, keragaman ini tidak dipahami sebagai pertentangan, melainkan sebagai kesatuan iman yang saling melengkapi. Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Khalsedon (451 M) merumuskan bahwa Yesus Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia dalam satu pribadi. Pemahaman ini memberikan landasan penting bagi orang percaya untuk hidup dengan sikap terbuka, saling menghargai, serta beriman secara utuh kepada Kristus.
Copyrights © 2026