This study analyzes the role of social capital in shaping the social resilience of the coastal community in Teluk Gok, West Sekotong Barat, West Lombok, West Nusa Tenggara. The research uses a qualitative method with a case study approach. Data was collected through in-depth interviews, field observations, and document studies to explores the vulnerabilities experienced by the community in Teluk Gok, West Lombok, West Nusa Tenggara, and the adaptive strategies they have developed. Findings indicate that climate change and limited infrastructure such as road access, clean water, and health and education facilities exacerbate the community’s vulnerability. To survive, residents diversify livelihoods, optimize local resources, engage in labor mobility, and utilize social networks as coping mechanisms. Social capital functions importantly as bonding capital that facilitates access to jobs and collective support, while linking social capital remains limited, leaving access to external resources and structural opportunities vulnerable. The study emphasizes the need to strengthen transformative social capital, improve basic infrastructure, and implement policy interventions that enhance access to technology, capital, and public services to bolster the long-term resilience of the coastal community. Penelitian ini menganalisis peran modal sosial dalam membentuk resiliensi sosial komunitas pesisir di Teluk Gok, Sekotong Barat, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumen untuk menggali kerentanan yang dialami oleh masyarakat di Teluk Gok, serta strategi adaptif yang mereka kembangkan. Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan iklim dan keterbatasan infrastruktur seperti akses jalan, air bersih, fasilitas kesehatan dan pendidikan memperburuk kerentanan masyarakat Teluk Gok. Untuk bertahan, warga melakukan diversifikasi mata pencaharian, optimalisasi sumber daya, mobilitas tenaga kerja, dan memanfaatkan jaringan sosial sebagai mekanisme coping. Modal sosial berperan penting sebagai modal pengikat (bonding) yang memfasilitasi akses pekerjaan dan dukungan kolektif, namun kapasitas modal sosial penghubung (linking social capital) masih terbatas sehingga akses terhadap sumber daya eksternal dan peluang struktural tetap rentan. penelitian ini menekankan perlunya penguatan modal sosial transformatif, perbaikan infrastruktur dasar, serta intervensi kebijakan yang meningkatkan akses teknologi, pemodalan, dan layanan publik untuk meningkatkan ketahanan jangka panjang komunitas pesisir.
Copyrights © 2025