Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan kinerja metode Extreme Value Theory dengan pendekatan Peak Over Threshold–Generalized Pareto Distribution (POT–GPD) dan metode Exponentially Weighted Moving Average (EWMA) dalam mengukur risiko inflasi ekstrem di Indonesia. Data yang digunakan merupakan data inflasi bulanan (month-to-month) periode Januari 1979 hingga Agustus 2025 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik, kemudian ditransformasikan menjadi return inflasi. Pendekatan POT–GPD digunakan untuk memodelkan nilai ekstrem dengan penentuan threshold melalui Mean Residual Life plot dan estimasi parameter menggunakan Maximum Likelihood Estimation. Metode EWMA digunakan untuk memodelkan volatilitas dinamis dengan parameter peluruhan λ = 0,94. Pengukuran risiko dilakukan menggunakan Value at Risk (VaR) pada tingkat kepercayaan 95%, 99%, dan 99,5%, serta dievaluasi menggunakan tingkat pelanggaran VaR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa VaR POT–GPD menghasilkan estimasi risiko yang lebih konservatif pada tingkat kepercayaan tinggi dengan proporsi pelanggaran yang lebih mendekati nilai teoritis dibandingkan EWMA. Metode EWMA mampu menangkap dinamika volatilitas secara adaptif, namun cenderung kurang akurat dalam memodelkan risiko pada bagian ekor distribusi. Dengan demikian, metode POT–GPD lebih unggul dalam mengestimasi risiko inflasi ekstrem di Indonesia.
Copyrights © 2026