Penanganan pascapanen merupakan kegiatan krusial yang menentukan mutu dan kuantitas hasil pertanian, namun kesalahan dalam proses ini dapat menimbulkan kerugian signifikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat adopsi teknologi pascapanen dan praktik manajemen rantai pasok di kalangan petani Desa Poncowati, Kabupaten Lampung Tengah. Menggunakan desain campuran (mixed methods), data dikumpulkan melalui survei terhadap 50 responden kelompok tani, Focus Group Discussion, dan wawancara mendalam. Hasil menunjukkan bahwa praktik pascapanen konvensional masih dominan, di mana pengeringan dengan sinar matahari hanya menurunkan kadar air tongkol jagung hingga 26,2% dan jagung pipilan hingga 16%, masih di atas standar nasional 12%–14%. Rata-rata skor efisiensi logistik merupakan yang terendah (2,22 dari 5), sementara persepsi kualitas produk memperoleh skor tertinggi (3,39). Rendahnya adopsi digital dan lemahnya integrasi informasi semakin menghambat optimalisasi rantai pasok. Temuan ini mengindikasikan bahwa keterbatasan infrastruktur dan rendahnya adopsi teknologi menjadi tantangan utama dalam meningkatkan ketahanan pangan di tingkat desa.
Copyrights © 2026