Fenomena bangkitnya minat masyarakat terhadap hal spiritualitas tampak mencolok pada masa kini. Fenomena diduga dampak dari sekularisme yang menimbulkan kekosongan batin, efek pendulum pencerahan yang begitu rasional dan abai dengan unsur emosi manusia. Pada konteks umum, bangkitnya minat terhadap gerakan kebatinan seperti Yoga dan meditasi bisa menjadi indikasi ini. Sedang dalam konteks Kristen yang ditandai dengan maraknya minat eksplorasi ulang warisan tradisi spiritualitas masa lampau dari Katolik maupun Protestan. Hanya saja pada ranah praktis, implementasi spiritualitas umat sering bersifat ambivalen. Ada kelompok mengekspresikan wujud spiritualitasnya dengan cara menarik diri dari realitas dunia yang dianggap begitu sekuler. Sikap eskapis ini membangun model spiritualitas yang bersifat asketis, tertutup dan cenderung terfokus hanya pada praktik ibadah di Gereja. Sementara kelompok lainnya begitu akomodatif, terlibat total tanpa memilah dengan anggapan bukankah dunia diciptakan Allah. Praktik mendorong sikap sanctify evil yang cenderung berkompromi terhadap sekularisme. Bagaimana Gereja bersikap dengan fenomena ini, apakah model spiritualitas yang telah dipraktikkan mampu memberikan solusi bagi umat? Penelitian bertujuan mencari model konstruktif bagi spiritualitas Kristen. Fokus penelitian ditujukan untuk menganalisis prinsip teologi inkarnasi Kristus yang digagas Robert E. Webber dalam Common Roots: A Call to Evangelical Maturity dan menawarkannya sebagai model bagi spiritualitas Kristen. Penelitian diharapkan berkontribusi dalam model spiritualitas Kristen yang holistik, suatu model spiritualitas yang terintegrasi antara Allah, Gereja dan dunia.
Copyrights © 2026