ABSTRAKUpacara adat Naik Panamungk pada masyarakat suku Dayak Kanayatn di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, merupakan tradisi sakral yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Jubata (Tuhan) dan penghormatan kepada Enek Arek (nenek moyang) atas hasil panen padi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi pelaksanaan upacara adat Naik Panamungk serta menganalisis fungsi Tari Bunga Silat dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan antropologi dan koreografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat dan pelaku seni, serta studi dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, upacara adat Naik Panamungk terdiri atas empat tahapan utama, yaitu Nyangahatn Manta, Nyangahatn Masak, makan bersama, dan penutupan dengan Tari Bunga Silat. Setiap tahapan memiliki makna simbolik yang mencerminkan hubungan spiritual antara manusia dengan Jubata, leluhur, serta sesama anggota masyarakat. Tari Bunga Silat berfungsi sebagai sarana hiburan, ungkapan rasa syukur, dan media mempererat solidaritas sosial setelah seluruh prosesi ritual selesai. Tarian ini dibawakan secara individu maupun berpasangan laki-laki maupun perempuan dengan rentang usia 15 hingga 60 tahun, menggunakan properti rotan atau kayu, dengan iringan musik tradisional seperti Agung’k, Dau, dan Gadobong yang dimainkan secara langsung. Walaupun tidak termasuk dalam prosesi inti, Tari Bunga Silat memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi, memperkuat kebersamaan masyarakat, serta menegaskan identitas budaya suku Dayak Kanayatn. ABSTRACTThe Naik Panamungk traditional ceremony of the Dayak Kanayatn community in Ngabang District, Landak Regency, is a sacred tradition held every three years as an expression of gratitude to Jubata (God) and respect to Enek Arek (ancestors) for the rice harvest. This study aims to describe the process of the Naik Panamungk ceremony and analyze the function of the Bunga Silat Dance within its implementation. The research method used is qualitative with anthropological and choreographic approaches. Data were collected through observation, interviews with traditional leaders and artists, and documentation studies. Based on the findings, the Naik Panamungk ceremony consists of four main stages: Nyangahatn Manta, Nyangahatn Masak, communal feasting, and closure with the performance of the Bunga Silat Dance. Each stage carries symbolic meanings that reflect the spiritual relationship between humans, Jubata, ancestors, and fellow community members. The Bunga Silat Dance functions as a form of entertainment, an expression of gratitude, and a medium to strengthen social solidarity after the entire ritual process is completed. The dance is performed individually or in pairs by both men and women aged between 15 and 60 years, using rattan or wooden props, accompanied by traditional musical instruments such as Agung’k, Dau, and Gadobong, which are played live. Although not part of the main ritual process, the Bunga Silat Dance holds significant cultural value as it helps preserve tradition, strengthen community bonds, and affirm the cultural identity of the Dayak Kanayatn people.
Copyrights © 2026