Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

VIDEO PEMBELAJARAN TARI JEPIN KEMBANG MANGGAR UNTUK SISWA SMA DI KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT Satrianingsih, Aline Rizky Oktaviari; Putri Aditya, Mega Cantik; Oktariani, Dwi; Patriantoro, Patriantoro
Pepatudzu : Media Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan Vol 19, No 2 (2023): Vol 19, No 1 (2023): Volume 19, Nomor 2, November 2023
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univ. Al Asyariah Mandar Sulbar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/fkip.v19i2.4855

Abstract

The Jepin Kembang Manggar Dance learning video is an alternative traditional dance learning media that is based on Malay culture in West Kalimantan. This learning media was developed using the Research and Development research method. The Jepin Kembang Manggar dance originates from Batu Layang, West Kalimantan, which was created with the aim of remembering that life must have a sense of togetherness, mutual cooperation and joy, because in society you cannot live without other people. The material for this dance is divided into 7 learning videos consisting of movement videos for ragam 1, ragam 2, ragam 3, ragam 4, ragam 5, ragam 6, a video of the posture of holding a manggar, and a performance video of the Jepin Kembang Manggar Dance. This learning video was developed to meet the needs of high school students in the city of Pontianak in studying traditional Malay dance as a medium for instilling and stimulating noble character values. Apart from that, through this video students of senior high schools can improve their skills independently or in groups.
Analisis Makna Gerak Tari Jepin Loncat Tiung Sembilan Sembilan karya Sabarudin di Desa Pal Sembilan Kabupaten Kuburaya Syafitri, Dolly; Ismunandar, Ismunandar; Putri Aditya, Mega Cantik
Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jcs.v3i2.35766

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mendokumentasikan analisis makna gerak Tari Jepin Loncat Tiung Sembilan dalam bentuk tulisan, gambar, serta video. Dilatar belakangi dengan permasalahan bagaimana makna gerak, deskripsi gerak dan klasifikasi gerak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, bentuk penelitian kualitatif, serta pendekatan koreografi dan semiotik. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik dokumentasi. Teknik menguji keabsahan data yang digunakan adalah perpanjangan pengamatan dan triangulasi sumber, berdasarkan analisis data maka dapat disimpulkan bahwa analisis makna gerak Tari Jepin Loncat Tiung Sembilan sebagai berikut: Tari Jepin Loncat Tiung Sembilan Sembilan merupakan gabungan dari 9 langkah jepin. Ada gerak yang menyimbolkan sebuah alat yang membantu pekerjaan sehari-hari, gerak kegiatan manusia serta gerak imitasi seekor burung. Tari ini berfungsi sebagai tari hiburan, busana yang digunakan baju kurung melayu. Alat musik akordion, biola, beruas, dan gambus tarian ini tidak menggunakan properti, ditarikan oleh laki-laki maupun perempuan. Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta menambah wawasan terkait makna gerak tari Jepin Loncat Tiung Sembilan Sembilan, juga menjadi sumber referensi yang akurat.
Kajian Pragmatik Dalam Pertunjukan Tari Bubu di Desa Sandai Kiri Kabupaten Ketapang Putri Aditya, Mega Cantik; Oktaviari Satrianingsih, Aline Rizky; Widyatama Putra, Zakarias Aria; Sagala, Mastri Dihita
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i1.8238

Abstract

Tari Bubu merupakan salah satu kesenian tradisional asal Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Tarian ini memiliki keunikan dari sebuah bubu atau alat penangkap ikan tradisional yang dapat bergerak sendiri ketika dibacakan lantunan syair mantra oleh pawang bubu. Pertunjukan Tari Bubu tidak bisa lepas dari syair mantra yang digunakan sebagai media pemanggil roh bubu agar bisa bergerak sekaligus sebagai pengiring tarian ini. Penelitian ini dilakukan untuk menelaah lebih lanjut isi dan makna yang terdapat dalam lantunan syair mantra bubu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dalam bentuk kualitatif, sehingga mampu menjabarkan hasil menelitian ini secara lengkap dan jelas. Analisis pragmatik digunakan sebagai dasar pembahasan komponen verbal dalam tarian ini, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Teknik pengumpulan data yaitu, observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Hasil dari penelian ini dapat disimpulkan bahwa syair mantra dalam Tari Bubu menceritakan tentang sejarah asal mula terciptanya tarian ini, kisah tokoh Lokan yang memiliki penyakit akhirnya sembuh karena masuk kedalam bubu sambil mengarang dan menciptakan sebuah syair tentang ayah dan ibunya. Selain itu juga terdapat bacaan ayat suci Al-Quran di dalam mantra yang dilantunkan oleh pawang bubu. Berdasarkan hasil analisa nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Bubu adalah nilai agama, nilai sosial, nilai budaya, dan nilai moral.
Pelatihan Penciptaan Tari Kreasi bagi Peserta Didik SMA Sederajat di Kota Pontianak dan Sekitarnya Oktaviari Satrianingsih, Aline Rizky; Tindarika, Regaria; Putri Aditya, Mega Cantik; Ismunandar, Ismunandar; Oktariani, Dwi
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 4 (2025): Edisi Oktober - Desember
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i4.7660

Abstract

Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan kemampuan menciptakan karya tari berbasis budaya lokal oleh peserta didik SMA di Kota Pontianak dan sekitarnya. Latar belakang kegiatan ini berangkat dari kurangnya kesempatan siswa mengembangkan potensi seni tari secara kreatif di sekolah, serta terbatasnya sumber belajar berbasis kearifan lokal. Melalui pendekatan partisipatif dan metode eksplorasi–improvisasi–komposisi, kegiatan dilaksanakan dalam empat tahap: persiapan dan koordinasi, pelatihan dan eksplorasi kreatif, penciptaan karya, serta pementasan dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pada aspek eksplorasi gerak sebanyak 85%, keberanian tampil 100%, dan pemahaman terhadap budaya lokal 90%. Lima karya tari kreasi tematik berhasil diciptakan yang masing-masing berasal dari mengangkat isu ekologis dan sosial sebagai refleksi kehidupan masyarakat di Kota Pontianak dan sekitarnya. Luaran kegiatan meliputi karya tari, catatan pembelajaran, serta dokumentasi audiovisual yang digunakan guru sebagai bahan ajar dalam pembelajaran seni tari. Kegiatan ini tidak hanya berkontribusi terhadap penguatan kapasitas keterampilan kreatif siswa, tetapi juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam upaya pelestarian seni budaya lokal. Hasil PKM ini berpotensi untuk dapat dikembangkan menjadi pembelajaran seni berbasis budaya lokal dan wadah regenerasi seniman muda di Kalimantan Barat.
FUNGSI TARI BUNGA SILAT DALAM UPACARA ADAT NAIK PANAMUNGK SUKU DAYAK KANAYATN KECAMATAN NGABANG KABUPATEN LANDAK Melania, Melania; Putri Aditya, Mega Cantik; Satrianingsih, Aline Rizky Oktaviari
Joged Vol 25, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v25i1.19862

Abstract

ABSTRAKUpacara adat Naik Panamungk pada masyarakat suku Dayak Kanayatn di Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, merupakan tradisi sakral yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Jubata (Tuhan) dan penghormatan kepada Enek Arek (nenek moyang) atas hasil panen padi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan prosesi pelaksanaan upacara adat Naik Panamungk serta menganalisis fungsi Tari Bunga Silat dalam pelaksanaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan antropologi dan koreografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat dan pelaku seni, serta studi dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, upacara adat Naik Panamungk terdiri atas empat tahapan utama, yaitu Nyangahatn Manta, Nyangahatn Masak, makan bersama, dan penutupan dengan Tari Bunga Silat. Setiap tahapan memiliki makna simbolik yang mencerminkan hubungan spiritual antara manusia dengan Jubata, leluhur, serta sesama anggota masyarakat. Tari Bunga Silat berfungsi sebagai sarana hiburan, ungkapan rasa syukur, dan media mempererat solidaritas sosial setelah seluruh prosesi ritual selesai. Tarian ini dibawakan secara individu maupun berpasangan laki-laki maupun perempuan dengan rentang usia 15 hingga 60 tahun, menggunakan properti rotan atau kayu, dengan iringan musik tradisional seperti Agung’k, Dau, dan Gadobong yang dimainkan secara langsung. Walaupun tidak termasuk dalam prosesi inti, Tari Bunga Silat memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi, memperkuat kebersamaan masyarakat, serta menegaskan identitas budaya suku Dayak Kanayatn. ABSTRACTThe Naik Panamungk traditional ceremony of the Dayak Kanayatn community in Ngabang District, Landak Regency, is a sacred tradition held every three years as an expression of gratitude to Jubata (God) and respect to Enek Arek (ancestors) for the rice harvest. This study aims to describe the process of the Naik Panamungk ceremony and analyze the function of the Bunga Silat Dance within its implementation. The research method used is qualitative with anthropological and choreographic approaches. Data were collected through observation, interviews with traditional leaders and artists, and documentation studies. Based on the findings, the Naik Panamungk ceremony consists of four main stages: Nyangahatn Manta, Nyangahatn Masak, communal feasting, and closure with the performance of the Bunga Silat Dance. Each stage carries symbolic meanings that reflect the spiritual relationship between humans, Jubata, ancestors, and fellow community members. The Bunga Silat Dance functions as a form of entertainment, an expression of gratitude, and a medium to strengthen social solidarity after the entire ritual process is completed. The dance is performed individually or in pairs by both men and women aged between 15 and 60 years, using rattan or wooden props, accompanied by traditional musical instruments such as Agung’k, Dau, and Gadobong, which are played live. Although not part of the main ritual process, the Bunga Silat Dance holds significant cultural value as it helps preserve tradition, strengthen community bonds, and affirm the cultural identity of the Dayak Kanayatn people.