Penelitian bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan bentuk-bentuk tanda yang merepresentasikan karakteristik kepemimpinan dalam teks tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain deskriptif, serta analisis semiotika Roland Barthes untuk mengungkap struktur tanda pada tingkat denotasi dan konotasi. Data diperoleh melalui teknik telaah pustaka, simak-catat, dan reflektif-introspektif, kemudian divalidasi dengan triangulasi. Analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tanda kepemimpinan dalam pappaseng Kajao Laliddo diwujudkan melalui satuan leksikal dan struktur kalimat yang menegaskan nilai-nilai utama kepemimpinan. Pada tataran denotatif, tanda seperti acca (kepintaran) dan lempu (kelurusan/kejujuran) muncul sebagai atribut dasar yang dinominalisasi dan ditempatkan secara hierarkis sebagai fondasi kepemimpinan ideal. Sementara itu, secara konotatif, tanda-tanda tersebut berkembang menjadi kode moral-etis yang mengikat, di mana kecerdasan tidak berdiri sendiri, melainkan harus selaras dengan sistem adat (pangadereng). Selain itu, tanda wari’e merepresentasikan prinsip keadilan yang bersifat kosmik dan normatif. Keseluruhan bentuk tanda ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda karakter individu pemimpin, tetapi juga sebagai konstruksi simbolik yang mengatur legitimasi dan tatanan sosial dalam masyarakat Bugis Bone.
Copyrights © 2026